Suasana haru menyelimuti Stasiun Bekasi Timur, Duren Jaya, Kota Bekasi pada Kamis (30/4/2026). Empat hari pasca kecelakaan kereta api (KA) hebat yang melibatkan KA jarak jauh dan KRL Commuter Line, stasiun kini dipenuhi dengan karangan bunga dan pesan belasungkawa dari masyarakat.
Meskipun aktivitas penumpang di stasiun mulai berangsur normal, jejak tragedi yang terjadi pada Senin (27/4) lalu tersebut masih terasa sangat kental.
Pemandangan di salah satu titik peron menjadi pusat perhatian penumpang yang melintas.
Karangan Bunga Penuhi Sudut Peron
Sebuah meja yang terletak di dekat pintu masuk peron kini beralih fungsi menjadi tempat peletakan bunga-bunga duka.
Berdasarkan pantauan di lokasi, rangkaian bunga tersebut didominasi oleh mawar merah, merah muda, dan putih.
Tidak hanya bunga, warga juga menyertakan kartu ucapan serta kertas berisi tulisan tangan yang terselip dengan rapi di antara kelopak bunga.
Salah satu rangkaian bunga berwarna merah muda menarik perhatian dengan secarik surat yang berisi daftar nama korban yang berpulang dalam insiden maut tersebut.
“Surga yang kekal untuk perempuan hebat,” tulis pesan tersebut.
“Tutik Anitasari, Hanum Anjasari, Vica Acnia Pratiwi, Ida Nuraida, Nur Alimatun Citra Lestari, Farida Utami, Gita Septia Wardhani, Fatmawati Rahmayani, Arinjani Novita Sari, Nur Aina Eka Rahmadhani, Nuryati, Nur Laela, Ristuti Kustiyahayu, Mia Citra Khumairoh, Enggar Retno Krisjayanti, Adelia Rifani. Al Fatihah.”
Pesan serupa juga terlihat pada rangkaian bunga mawar merah lainnya.
Sebuah kertas polos berisi tulisan tangan mencantumkan nama-nama korban disertai doa tulus: “Dear… Aku mendoakanmu agar tenang di sisi-Nya.”
Rangkaian bunga itu jadi simbol penghormatan terakhir bagi 16 korban meninggal dunia dalam kecelakaan maut di kawasan Stasiun Bekasi Timur yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line beberapa waktu lalu.
Sisa Material Kereta Masih Terlihat
Meski pelayanan perjalanan KRL sudah kembali beroperasi, sisa-sisa peristiwa memilukan tersebut masih terlihat jelas di area jalur rel.
Hingga pukul 11.30 WIB, material dari rangkaian kereta yang terdampak kecelakaan masih berada di lokasi.
Beberapa bagian gerbong yang mengalami kerusakan parah terlihat di sisi rel dengan penutup terpal berwarna biru dan abu-abu.
Garis polisi (police line) juga masih terpasang melingkari area tersebut guna kepentingan penyelidikan lebih lanjut.
Serpihan-serpihan kecil seperti komponen pendingin udara (AC) dan badan gerbong masih tampak berserakan di sekitar lokasi, menjadi pengingat bisu betapa hebatnya benturan yang terjadi pada Senin lalu.
Dampak Psikologis Penumpang
Kembalinya operasional stasiun ke kondisi normal ternyata tidak serta-merta menghilangkan rasa khawatir di benak para penumpang.
Banyak dari mereka yang mengaku masih merasakan dampak psikologis atau trauma saat harus kembali menggunakan layanan kereta api.
Catherine, salah satu pengguna setia KRL yang hendak menuju Kebayoran, mengungkapkan perasaannya saat kembali menginjakkan kaki di peron Stasiun Bekasi Timur.
“Takut-takut sih ada tapi kayak ya udah mau naik apa lagi. Semoga ga berulang kembali juga,” ujarnya kepada awak media.
Ia juga mencatat adanya sedikit perbedaan suasana di stasiun.
Meski terlihat normal, kepadatan penumpang pada jam tersebut terasa sedikit berkurang daripada hari-hari biasanya sebelum kecelakaan terjadi.
“Ini agak normal. Mungkin karena makin siang jadi makin sepi, mungkin nanti ada jam pulang itu baru ramai lagi. Tapi aku berangkat di jam ini lebih ramai sih biasanya,” tambah Catherine.
Kecelakaan kereta di Bekasi tersebut menjadi salah satu peristiwa transportasi yang paling mendapat perhatian publik di tahun 2026.
Kehadiran bunga-bunga di Stasiun Bekasi Timur mencerminkan solidaritas dan duka mendalam dari masyarakat terhadap para korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Pihak otoritas terkait saat ini masih terus melakukan evaluasi dan pembersihan area untuk memastikan keamanan total bagi seluruh pengguna jasa transportasi kereta api di masa mendatang.


Komentar